Aku Ingin Merasakan Terik Matahari

Aku ingin merasakan terik matahari
Sebelum aku tak bisa merasakannya lagi
Agar aku bisa mencintai
Dirinya yang telah pergi

Aku ingin merasakan terik matahari
Sebelum Tuhan menyuruhku kembali
Agar aku selalu mawas diri
Bahwa neraka lebih panas pasti

Aku ingin merasakan terik matahari
Sebelum hujan tak kunjung berhenti
Agar dapat semua ku syukuri
Walau dirinya tiada lagi di sini

Aku ingin merasakannya sayang
Sebelum terang menghilang
Sebelum malaikat mengundang

Generasi Baru

Saat generasi baru menyaksikan
seseorang yang tidak miskin tapi kelaparan
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru memberi
nasi terakhir yang mereka miliki
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru menyisihkan uang
untuk kemiskinan dan ketertindasan
Generasi tua bersiap-siaplah !

Saat generasi baru mulai melukis tentang kemanusiaan
dan kejengahan akan kesewenangan
Generasi tua bersiap-siaplah !

Saat generasi baru mulai menyanyikan
perlawanan atas kehidupan yang mapan
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru mulai lupa bau emas dan logam
Mulai tahu mana yang jabatan
dan mana yang berarti pengabdian
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat generasi baru mulai bangga dengan generasinya
Karena ketidak-pedulian penguasa
Generasi tua berhati-hatilah !

Saat itu,
Saat generasi baru lebih memilih bisu
Daripada harus mendengar
‘nasihat’ para generasi tua negerinya,
karena menganggap semua hanya muslihat dan dusta

Di hati hari ini

Di hati yang gersang ini,
tumbuh subur bunga-bunga puisi

Di hati yang gersang ini,
belatung, lintah, kalajengking beranak pinak

Di hati yang penuh dendam ini,
lagu sindir berdengung tiada henti

Di hati yang penuh muslihat ini,
kata-kata kotor sering menjual diri
Kata-kata indah dan penuh kias
Hanya milik mereka yang sudah puas
dan hidup tanpa awas

Di perut yang kosong ini,
nafsu dan doa sering berkelahi

Di perut yang kosong ini,
sering hanya terisi rasa prihatin
atas kekosongan perut yang lain

Di perut yang kosong ini,
menyeret hidup hanya bermodal yakin
Tujuan hidup bukan kaya apalagi miskin
Tapi runtuhnya tembok kesenjangan
yang semakin hari makin panjang

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke rahmatullah
Pak Sadah, yang biasa pagi-pagi
Pergi ke sawah
Bukan sawah miliknya,
Tapi tidak mengeluh beliau bekerja
Walau gaji buruh tani segitu-segitu saja
Putri-putrinya pergi, setelah tahu aroma lelaki
Meninggalkannya masak, mandi, makan, lebaran, nyekar makam istrinya seorang diri

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke pangkuan Allah
Mbok Sekar, yang dengan terbungkuk
Menggendong kayu bakar
Untuk dijual ke pasar
Walau jarang ada yang beli
Tetap beliau pergi,
Anak-anaknya merantau tak kembali
Meninggalkannya cucu-cucu,
Yang menunggu lapar setiap hari

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah mendahului kita
Pak Karman, yang kalau berjalan
Selalu menundukkan pandang
Gubuk dan tanah sepetak miliknya
Telah diambil paksa
Karena utang anak-anaknya
yang suka judi apa saja
Dari kartu sampai pilkada
kalah pula
Akhirnya, ia gila
Tidur dan makan
Dari belas kasih orang

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Subuh tadi, telah meninggal dunia
Bu Sri, telah lama mengabdi
Menjadi guru honorer
Di sekolah dasar ujung desa
Dengan gaji yang menyiksa
Untuk makan, harus ngutang
Walau begitu tak mengeluh ia bergadang
Mengkoreksi PR murid-muridnya
Senyum manisnya, cerminan harapan
Agar anak kampung memiliki masa depan

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Adalah kabar gembira
Bagi sebagian mereka
Sudah cukup sabar berjalan di dunia
Menjemput janji Tuhan

Kekasihmu Hanya Manusia

Saat aku diam
Engkau bilang aku membosankan
Aku coba bersuara
Engkau mengataiku banyak bicara

Sayang…
Maumu apa ?
Aku sudah pernah bilang bukan ?!
Kekasihmu ini hanyalah manusia

Budak Kemunafikan

Gara-gara tidak ku turunkan pandang
Ada yang naik pitam
Sambil menuntut kesopanan
Rupa-rupanya, ia tergila-gila akan keseganan
Dia tua
Aku muda
Terus apa hubungannya
Mungkin ia keturunan ningrat
Sedang aku dari keluarga melarat
Peduli amat !

Panggung drama
Lebih cocok untuknya
Dimana semua
adalah sandiwara

Sedang aku ?
Jika tidak tulus dari hati
Untuk apa bernyanyi
Jika hanya untuk dipuji
Untuk apa ku jual diri

Terlampau sering aku
Melihat tatapan seperti itu
Merasa lebih tinggi
Juga paling layak dihormati

Padahal
Kita semua sama
Padahal
Ini hanyalah dunia
Padahal
Masih ada surga

Lihat saja lihat
Tidak peduli siapa
Saudara, kerabat atau sahabat
Biasanya orang sepertinya
jika menjabat
Dan waktunya kurang tepat
Sering ia lupa bersapa
Andai tidak kamu dulu yang menegurnya

Tanpa Sengaja Aku Lahir

Berdiri di atas dunia yang salah
Kemana seharusnya tangan ini merangkul
Atau kemana kaki ini mesti melangkah
Sementara gelap semakin menyembul
Sore itu wajah-wajah lelah

Tubuh-tubuh kurus menggelepar
Tanpa mimpi, tidak ada yang peduli
Dalam resah, hati gusar berkelakar
Apa yang dimakannya esok hari

Sampai menjelang mati
Langit biru enggan pergi sama sekali
Menaungi kegelapan di bawahnya
Menyamarkan yang hidup tanpa norma

Ah…
Andai aku dilahirkan oleh udara kosong

Apa Yang Aku Pikirkan ?

Aku tidak layak untukmu
Bidadari kecil dalam hatiku
Engkaulah makhluk surga
Turun ke dunia
Untuk membuat sepertiku gila

Terlalu nista, hina
Di matamu
Diriku siapa ?
Aku mengagumimu
Dari ujung dunia

Belum Berubah Aku

Selalu seperti itu
Berungkali aku terbius waktu
Yang bukan milikku

Hidup di bawah ketiak orang
Keringat percuma ku buang
Seakan pengorbanan
Macam komedi lawakan

Entah kapan aku dapat
Memulai untuk diriku sendiri
Senja sebentar lagi telah lewat
Dan lagi-lagi
Mengurungku dalam gelap
Kehidupan ini

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑